Supergirl Mengalami Kerugian Besar di Box Office

Box office Supergirl mengecewakan setelah film DCU ini hanya meraih sekitar $126 juta secara global. Simak penyebab kegagalannya, biaya produksi, dan estimasi kerugian

Supergirl Mengalami Kerugian Besar di Box Office

Tahun 2025 menjadi salah satu tahun terbaik bagi Warner Bros. dengan berbagai film yang berhasil meraih kesuksesan. Salah satunya adalah Sinners yang mendapatkan hingga 16 nominasi Oscar. Selain itu, ada Superman yang menjadi film pertama dari semesta DCU dan berhasil mendapatkan sambutan positif dari penonton serta pujian luar biasa dari para kritikus film.

Superman juga mampu mencatatkan pendapatan box office sekitar US$618,7 juta (sekitar Rp10,21 triliun) di seluruh dunia. Kesuksesan tersebut tentu menjadi modal penting bagi DC Studios untuk melanjutkan pembangunan semesta DCU yang digarap oleh James Gunn dan Peter Safran.

Namun, memasuki tahun berikutnya, Warner Bros. tampaknya menghadapi tantangan yang cukup besar. Sejumlah proyek sekuel dan waralaba mereka mengalami berbagai kendala, termasuk rencana kelanjutan Barbie yang masih menghadapi kesulitan dalam proses pengembangannya.

Supergirl Gagal Mengulangi Kesuksesan Superman

Baru-baru ini, Warner Bros. melalui anak perusahaannya, DC Studios, merilis film terbaru dari semesta DCU, yaitu Supergirl. Mengingat keberhasilan Superman, ekspektasi terhadap film yang dibintangi Milly Alcock tersebut tentu cukup tinggi.

Sayangnya, hasil yang didapatkan justru berada jauh di bawah harapan.Supergirl kini telah mengakhiri penayangannya di bioskop dan hanya mampu mengumpulkan pendapatan sekitar US$125,8 juta (sekitar Rp2,07 triliun) di seluruh dunia. Angka tersebut sangat jauh dibandingkan dengan Superman yang berhasil meraih sekitar US$618,7 juta (sekitar Rp10,21 triliun) secara global.

Dengan demikian, pendapatan Supergirl hanya sekitar seperlima dari pendapatan Superman.

Pendapatan Supergirl Tidak Mencapai Biaya Produksi

Film Supergirl diperkirakan memiliki anggaran produksi sekitar US$170 juta hingga US$186 juta (sekitar Rp2,81 triliun–Rp3,07 triliun).

Angka tersebut juga belum memperhitungkan biaya pemasaran dan distribusi. Jika biaya pemasaran diperkirakan mencapai lebih dari US$100 juta (sekitar Rp1,65 triliun), total pengeluaran Warner Bros. untuk film ini tentunya menjadi jauh lebih besar.

Dengan pendapatan sekitar US$126 juta (sekitar Rp2,08 triliun), Supergirl jelas menghadapi kesulitan besar untuk mencapai titik impas.

Bahkan, performa box office Supergirl membuat film tersebut berada di bawah beberapa film superhero yang sebelumnya juga mengalami masalah finansial, seperti Morbius yang mengumpulkan sekitar US$167,5 juta (sekitar Rp2,76 triliun) dan Joker: Folie à Deux yang mendapatkan sekitar US$208 juta (sekitar Rp3,43 triliun) di seluruh dunia.

Padahal, Supergirl mendapatkan ulasan yang relatif lebih baik dibandingkan kedua film tersebut.Hal ini menunjukkan bahwa ulasan positif dari kritikus tidak selalu berbanding lurus dengan kesuksesan box office. Pada akhirnya, sebuah waralaba dengan biaya produksi dan pemasaran yang sangat besar tetap membutuhkan pendapatan yang cukup untuk dapat terus berjalan.

Tanda-Tanda Kegagalan Supergirl Sudah Terlihat Sejak Awal

Pertanda bahwa Supergirl akan mengalami kesulitan di box office sebenarnya sudah terlihat sejak awal penayangannya di bioskop.

Film tersebut hanya mampu mencatatkan pembukaan domestik sekitar US$38 juta (sekitar Rp627 miliar). Setelah akhir pekan pertamanya, pendapatan Supergirl terus mengalami penurunan.

Di saat yang sama, Toy Story 5 justru berhasil menarik lebih banyak penonton dan sempat menjadi salah satu film dengan pendapatan terbesar pada periode tersebut.

Performa pembukaan yang kurang kuat menjadi masalah besar bagi film dengan anggaran produksi mencapai ratusan juta dolar. Film seperti Supergirl membutuhkan daya tarik yang kuat sejak minggu pertama agar dapat mempertahankan momentum dan mencapai target box office yang diperlukan.

Bagaimana Masa Depan DCU Setelah Kegagalan Supergirl?

Kegagalan Supergirl tentu membuat para penggemar mempertanyakan bagaimana kelanjutan DCU. Terlebih lagi, semesta baru yang dibangun James Gunn dan Peter Safran sejauh ini baru memiliki dua film layar lebar.

Menanggapi performa Supergirl, co-CEO DC Studios, Peter Safran, memberikan pernyataan kepada The New York Times mengenai hasil box office film tersebut.

“Meskipun Supergirl tidak memenuhi ekspektasi pendapatan box office kami, film ini hanyalah salah satu komponen dari strategi jangka panjang yang lebih luas di DC Studios yang tetap kami yakini keberhasilannya.”

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa DC Studios masih optimistis terhadap rencana jangka panjang DCU. Kegagalan satu film tampaknya tidak akan membuat studio mengubah keseluruhan strategi yang telah disiapkan.

Clayface Menjadi Film DCU Berikutnya

Setelah Superman dan Supergirl, DCU masih memiliki sejumlah proyek yang sedang dipersiapkan. Salah satu yang paling menarik adalah Clayface.

Berbeda dengan dua film sebelumnya, Clayface memiliki anggaran produksi yang jauh lebih kecil, yakni sekitar US$40 juta (sekitar Rp660 miliar). Dengan biaya produksi yang lebih rendah, film ini tentunya tidak membutuhkan pendapatan box office sebesar Supergirl untuk mencapai titik impas.

Clayface dijadwalkan tayang di bioskop pada 23 Oktober. Menarik untuk melihat apakah film dengan skala yang lebih kecil tersebut justru mampu memberikan hasil yang lebih baik bagi DC Studios.

Jika berhasil, Clayface bisa menjadi bukti bahwa DCU tidak harus selalu mengandalkan film dengan anggaran ratusan juta dolar untuk mendapatkan kesuksesan.

Sekilas Tentang Supergirl

Supergirl disutradarai oleh Craig Gillespie dan ditulis oleh Ana Nogueira. Film ini dibintangi oleh Milly Alcock sebagai Supergirl, bersama Matthias Schoenaerts, Eve Ridley, David Krumholtz, Emily Beecham, David Corenswet, dan Jason Momoa.

Dari sisi penerimaan, film ini mendapatkan respons yang relatif positif dibandingkan sejumlah film superhero yang mengalami kegagalan box office. Namun, penerimaan tersebut belum mampu mendorong penonton dalam jumlah yang cukup untuk membuat film ini sukses secara finansial.

Sumber : Boxofficemojo